Sabtu, 14 Maret 2009

Kader PKS Tunduk Kepada Siapa?


Dalam benak saya, seandainya dunia perpolitikan Indonesia tanpa kehadiran PKS tentu rasanya akan hambar dan membosankan. Suka tidak suka, PKS telah menggairahkan percaturan politik negeri ini.

Tengok saja di dunia maya, contohnya portal berita inilah.com, bisa dipastikan tiada hari tanpa berita seputar PKS. Apa yang bagi partai lain ‘biasa saja’ namun kalau PKS yang melakukan dijamin bikin heboh.

Contoh terbaru seputar wacana capres-cawapres. Banyak elit parpol melontarkan wacana capres-cawapres yang kadang berbeda dengan sesama koleganya di partai yang sama, tapi hanya disikapi sebagai sebuah perbedaan yang wajar. Namun kalau sesama petinggi PKS punya pandangan yang berbeda, langsung muncul berita ‘PKS mulai terbelah’: ada faksi keadilan dan faksi kesejahteraan.

Padahal dalam PKS, yang namanya perbedaan pandangan adalah kekayaan intelektual yang sangat dihargai. Namun kalau Majelis Syuro sudah membuat keputusan, maka keputusan apapun akan ditaati oleh semua lapisan kader, suka maupun tidak suka, sesuai dengan pendapatnya atau berlawanan. Tidak boleh lagi ada perbedaan kalau sudah ada hasil keputusan Majelis Syuro. Ini berlaku dalam semua level struktur PKS, dari tingkat RT sampai DPP.

Contohnya pada pilpres 2004 putaran pertama. Majelis Syuro PKS akhirnya memutuskan mendukung pasangan Amin Rais-Siswono. Sebetulnya, saya sekeluarga dan semua kader PKS di kecamatan tempat tinggal saya tidak sreg dengan figur Amin Rais. Namun, atas keputusan itu, (demi Allah) saya dan keluarga memilih Amin Rais. Walaupun belakangan, ‘peran PKS’ ini dinafikan oleh ‘pendukung’ Amin Rais. Bahkan ada di antara mereka yang menyatakan bahwa PKS mengkhianati Amin Rais pada pilpres 2004.

Contoh lain. Kalau elit parpol lain berpenampilan necis, bermobil mewah, punya rumah besar, pasti tidak ada yang ‘mempersoalkan’. Namun kalau ada petinggi PKS yang bermobil bagus dengan penampilan yang selalu rapi berjas, pasti dihembuskan berita miring dengan label borjuis, petualang politik, anasir pemecah belah, penjual partai.

Apakah ‘berpenampilan’ seperti itu melanggar syariat agama? Apakah orang seperti itu berarti tidak hidup sederhana, tidak zuhud? Dalam literature Islam, zuhud terletak di hati bukan pada apa yang nampak. Selama berasal dari sumber halal, tidak ada niatan takabur (hanya Allah SWT yang berhak menilai niatan manusia), terlebih digunakan sebagai sarana amal, mengefektifkan kerja, tentu semua itu adalah kebaikan.

Saya sendiri merasa senang kalau ada kader PKS (atau aleg PKS) yang hidupnya mulai membaik. Dan dari interaksi dengan lapisan bawah kader PKS walaupun hanya buruh bahkan ada yang masih menganggur, tidak ada di antara mereka yang iri, mendengki apalagi memfitnah terhadap kader PKS (atau caleg PKS) yang punya mobil dan rumah bagus. Kita semua merasa punya peran yang berbeda tapi satu tujuan: Indonesia yang adil dan sejahtera.

Yasmin Filistin, yasminfilistin@yahoo.co.id
sumber : inilah.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

PKS Banget adalah blog Tentang PKS dari salah satu simpatisannya yg mungkin berguna untuk simpatisan yg lain © 2009